Rabu, 09 November 2022

Brain Dump 1

Tempat Sampah dan Kue Rangi

Kemiskinan itu nyata, terpampang jelas di depan mata, di hadapanku kala itu.

Di depan mataku, kala langit Bandung masih mendung, tampias air hujan mengembun di depan jendela, di balik kaca hitamku pandangi seorang bapak membongkar plastik sampah berisi boks makanan yang sudah bercampur dengan air hujan dan sampah-sampah lainnya. Dibukanya tanpa ragu demi sesuap nasi bekas yang sudah bercampur dengan kuah sisaan lauk pauk lainnya.

Lalu kenangan itu menyeruak lagi di memoriku hari ini. Tepat di depan mata kepal, seorang bapak mendorong gerobak dagangannya. Tertulis, KUE RANGI. Dia berhenti tepat di depan warteg, tempat biasa aku dan teman-teman membeli makan siang. Hematku, oh bapaknya sengaja berhenti untuk makan siang.

Selesai menemukan posisi yang tepat untuk gerobaknya, ia masuk dan memilih makanan.

Mungkin kurang dari 2 menit, ia keluar, mengambil gerobak, dan pergi. Tanpa keresek berisi nasi bungkus, namun membawa wajah sendu yang tergurat jelas sambil mendorong gerobak KUE RANGI nya melaju.

Penyesalan terbesarku : Mengapa tidak aku beli saja kue Rangi itu.

Brain Dump 1 Tempat Sampah dan Kue Rangi Kemiskinan itu nyata, terpampang jelas di depan mata, di hadapanku kala itu. Di depan mataku, kala ...